Tuesday, October 30, 2012

Kami Sayang Pian, Ni !


Dalam percakapan mengenai kue-kue tradisional Indonesia dengan seorang teman, dengan percaya dirinya aku mempromosikan enaknya kue bingka khas Banjar. Temanku merespon dengan tidak kalah percaya dirinya bahwa kue bingka buatan neneknya lebih enak. Ketika membaca responnya, aku tersenyum kecil dan mengaku kalah karena memang tidak ada yang bisa memenangkan nuansa emosi yang tertangkap, cinta seorang cucu pada neneknya.

Dan aku pun teringat pada sosok nenek-ku yang jauh di sana. Nini (sebutan nenek di suku Banjar, Kalimantan Selatan) yang dalam bayanganku, beliau pasti sedang sibuk mengurus Rama dan Nayla, dua orang cucunya dari anaknya yang paling bungsu. Takdirnya, *Acil-ku ini menjadi single mother karena sekitar 2 tahun yang lalu, suaminya meninggal. Akhirnya, Acil-ku harus bekerja di sebuah biro perjalanan untuk mencari nafkah, menggantikan posisi suaminya.


Pekerjaannya sangat menyita waktu sehingga, Acil perlu bantuan untuk mengurus rumah dan mengasuh 2 putranya yang masih kecil-kecil. Dan Nini-pun hadir dengan suka rela untuk membagi kasih sayangnya yang tak terbatas itu untuk kedua cucunya.

Entah sudah berapa kali sosok Nini muncul dengan diam sebagai pahlawan di keluarga kami dan kami mungkin agak terlambat menyadarinya. Kadang sesuatu yang terlihat “sudah seharusnya” mengaburkan rasa penghargaan yang sepantasnya diberikan. Dan ini baru aku sadari, ketika mengingat betapa tidak terhitung pengorbanan yang Nini berikan untuk kami, anak-cucunya.

Ketika sosok Kai (kakek dalam bahasa Banjar) sebagai pencari nafkah utama harus terhalang kondisi kesehatannya yang menurun, Nini muncul dengan keterampilannya membuat pundut* dan kue-kue untuk dijual. Ketika anak-anaknya sibuk dengan urusan masing-masing dan harus meninggalkan anak-anak mereka untuk sementara, Nini muncul untuk mengasuh cucu-cucunya tanpa keluh. Aku dan adik-adikku tentunya sudah tidak terhitung berada dalam pelukan gendongannya ketika Mama tidak bisa mendekap kami. Begitu juga dengan 12 cucunya yang lain. Entah berapa kali, kami silih berganti merasakan dekapan sayang Nini.

Tidak terhitung hasil karya yang terlahir dari tangan-tangan keriputnya. Aku teringat kebun kecil yang ditanami bumbu-bumbu dapur yang dulu ia jaga atau hasil-hasil kebun yang ia bawa dari tanaman yang kelola.

Tidak terhitung pula, nilai-nilai kebersamaan yang ia ajarkan kepada kami. Putri-putrinya dan tentu cucu-cucu perempuannya secara tidak sadar telah ia “bentuk” untuk menyintai kuliner Banjar dan melestarikannya melalui “kelas memasak” di dapur rumah kami. Entah itu gangan asam, gangan karuh, pais patin, atau amparan tatak, Nini telah membagi semua resep masakan itu dengan sabarnya.    
 
Sudah semestinya kami merasa berdosa, bahwa dalam usianya yang telah menanjak di angka 70-an, kami masih belum bisa meminta beliau untuk beristirahat saja di rumah tanpa disibukkan oleh keharusan untuk membantu kami. Kami juga seharusnya merasa berdosa bahwa mungkin kami masih belum bisa menyampaikan dengan gamblang betapa kami sangat menyayanginya dan menghormatinya.

Kami, anak-cucumu, tentunya ingin menyuguhkan cinta yang sama tidak terbatasnya kepadamu dan tentunya kami ingin menjadi jalan kasih sayang Allah SWT untuk membuatmu tersenyum. Maafkan kami jika masih saja kami membebanimu dengan cobaan kesabaran yang silih berganti. Di tengah ketidakberdayaan kami, hanya satu hal yang teramat pasti bahwa “kami sayang pian Ni, teramat sayang !”.

*Acil: sebutan untuk bibi/tante dalam bahasa Banjar.
*pundut: makanan khas Banjar, kukusan beras dicampur dengan santan dan dibungkus daun pisang serta disajikan dengan sambal habang (sambal dari cabai merah kering). 

Botol Plastik


Hari itu matahari yang bersinar terik. Rasa haus membuatku berulang kali meneguk air kemasan yang aku beli sebelumnya. Tak terasa air di botol itu sudah hampir habis. Berniat untuk membuang botol air kemasan itu, aku mencari-cari tempat sampah di sepanjang trotoar yang aku jalani.

Sebelum niatku terlaksana, aku melihat seorang pria setengah baya yang memanggul satu karung penuh berisi botol plastik bekas air kemasan. Pria yang berprofesi sebagai pemulung itu tampak lelah.

Batinku mengatakan mungkin Bapak ini sudah berjalan tanpa henti untuk memungut botol plastik bekas sedari pagi. Daripada aku buang botol air kemasan yang dari tadi ku pegang, aku pikir lebih baik botol itu aku berikan ke bapak itu. Aku hampiri beliau dan menyapanya. Lalu, aku memasukkan botol plastik itu ke dalam karung yang ia panggul.

´´Terima kasih De´´ ucapnya singkat sambil memandangku. Ucapan itu terasa magis dan membuatku tersentuh karena ucapan terima kasihnya terdengar begitu tulus, tanpa rekayasa.
Foto diambil dari http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/arti-angka-kode-segitiga-di-botol.html
Botol plastik, barang yang sering kita anggap remeh, bagi sekelompok orang adalah sumber mata pencaharian. Bukan pemandangan yang aneh lagi apabila di jalan-jalan kota Jakarta atau kota besar lainnya, para pemulung tampak menyusurinya untuk mencari botol atau gelas plastik. Mereka kadang mengorek-ngorek tempat pembuangan sampah untuk mencari botol dan gelas plastik. Laksana mencari harta karun yang terpendam, dengan sabar mereka mengais-ngais botol dan gelas plastik di tengah gunungan sampah yang berbau.

Sebuah kesabaran yang bermula dari pilihan mencari nafkah, menyambung kehidupan. Pilihan yang membuat mereka jauh lebih terhormat dibandingkan manusia yang bergelimang harta yang didapat dengan cara yang tidak halal.

Melalui tangan mereka, botol dan gelas plastik yang sudah teronggok menjadi sampah, beredar untuk didaur ulang. Keberadaan mereka yang sering dianggap sebelah mata sedikit banyak membantu pengelolaan limbah plastik. Tanpa mereka yang bersedia untuk mengumpulkan botol dan gelas plastik, kita pasti akan kebingungan menghadapi tumpukan botol dan gelas plastik bekas.

Alangkah indahnya apabila kita bisa membantu para pemulung itu dengan memudahkan pekerjaan mereka. Upaya minimal yang bisa kita lakukan adalah dengan tidak mencampur botol dan gelas plastik bekas dengan tumpukan sampah basah yang berpotensi mengeluarkan bau menusuk.

Di beberapa tempat umum sudah dapat kita temui tempat sampah kering dan basah.  Ada baiknya, pembedaan ini kita terapkan di rumah masing-masing. Jadi, setiap botol dan gelas plastik bekas yang kita miliki tidak akan bercampur dengan sampah rumah tangga lainnya. Bayangkan betapa terbantunya bapak dan ibu pemulung dengan upaya kecil kita.

Alangkah indahnya pula apabila tuan rumah acara hajatan atau pesta yang memilih untuk menyajikan air dalam kemasan botol atau gelas plastik untuk bersedia menyisihkan botol dan gelas plastik, mengumpulkannya dan jika diberi kemudahan waktu, memberikannya kepada para pemulung.

Semuanya bisa dimulai dengan langkah sederhana dengan menumbuhkan rasa peduli. Kecil memang bentuknya, tapi pesan rasa kepedulian ini akan sangat bermakna dalam bagi saudara-saudara kita yang dipilihkan jalan nafkahnya melalui botol-botol plastik.  

Sunday, October 14, 2012

Sahabatku Adalah Orang Besar

Alhamdulillah atas ditemukannya jaringan internet yang memudahkan komunikasi antar kota bahkan antar negara. Kita selalu bisa tetap menjalin silaturahmi dengan keluarga, ahabat, teman kerja atau mungkin orang terkasih. Lewat internetlah, aku dapat menjalin kembali tali silaturahmi dengan salah seorang sahabatku di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Beberapa hari yang lalu, aku menerima email darinya, email yang mengingatkanku betapa besar amanah yang ia emban, sebagai sebagai seorang ibu yang juga bekerja.

Emailnya singkat dan ringan. Dengan tutur bahasanya yang tidak berubah sejak kami kuliah dulu, dia mengabarkan kalau sekarang dia telah dikarunia seorang anak laki-laki berumur 2 tahun. Dia melampirkan empat foto anaknya dengan pose yang berbeda-beda. Anaknya sangat mirip dengan sahabatku ini. Garis wajah dan senyumnya sangat mengingatkanku padanya.

 Dengan nada merendah dia menceritakan bahwa kegiatannya sekarang adalah mengurus rumah tangga sekaligus mengajar bahasa Inggris pada sebuah lembaga bahasa. Ketika aku membaca kalimat itu, terbayanglah kesibukan-kesibukannya setiap hari. Pagi harinya dimulai dengan menyiapkan sarapan untuk suaminya, memandikan si kecil, menyusui si kecil dan seabrek kegiatan rutin lainnya. Sore harinya dia harus berangkat mengajar. Sepulang dari mengajar, dia harus kembali menjalankan tugasnya sebagai ibu, mengurus si kecil tanpa melupakan suaminya.


Satu hal yang aku garis bawahi adalah tidak semua wanita dapat menjalani peran yang dia jalani tiap hari. Butuh kesabaran dan ketekunan untuk bisa sepertinya. Aku sendiri belum yakin dapat dianugerahi kesabaran dan ketekunan yang dia miliki. Setiap hari adalah senyum yang harus dia bagi pada anak, suami dan anak-anak didiknya.

Ibu rumah tangga memang bukan profesi yang menghasilkan uang berlimpah atau ketenaran. Di lingkungan yang mengajarkan penilaian sesuatu atas nama materi, ibu rumah tangga cenderung disepelekan. Sepertinya kita menganggapnya sebagai hal yang lumrah. Adalah lumrah kalau seorang ibu harus melakukan tugas-tugasnya, mulai dari menyiapkan pakaian suami dan anak, mencuci, mengepel, dan memasak makan pagi, siang dan malam, ditambah cemilan sore hari. Subhanallah, butuh energi super untuk dapat menjalankan tugas-tugas itu setiap hari.

Guru juga bukan profesi yang menjanjikan kesenangan dunia. Tapi bukankah guru adalah profesi mulia. Presiden Soekarno bahkan pernah menyebutkan bahwa guru adalah ‘rasul pembangunan‘ yang menyiratkan kemuliaan profesi tersebut.

Tanpa sosok seorang guru SD yang menginspirasinya, Andrea Hirata tidak akan mungkin menulis Laskar Pelangi yang sedemikian fenomenalnya. Ketika seorang diberi rizki oleh Allah untuk menjadi seorang guru, aku percaya bahwa dia telah diberi kekuatan untuk menggugah jiwa-jiwa yang haus akan ilmu untuk berubah menjadi seseorang. Tidak menutup kemungkinan, bahwa salah seorang dari anak didik sahabatku akan menjadi Andrea Hirata lain di kemudian hari.

 Jadi, aku yakin sahabatku adalah orang besar. Tidak ada yang rendah dengan menjadi seorang ibu rumah tangga dan seorang guru. Justru tanpa sadar dia telah menunjukkanku betapa besar peran yang ia jalani. Insya Allah, senyum yang dia persembahkan tiap hari untuk anak, suami dan anak didiknya akan dicatat sebagai amal kebaikan. 

Friday, October 12, 2012

Coretan Sydney 2: Can I pray at your place ?

Matahari sudah hampir tenggelam penanda waktu shalat Mahgrib sudah hampir tiba. Daerah Marsfield yang terletak di ujung utara Sydney sudah mulai gelap. Taksi yang aku tumpangi dari Macquarie Shopping Centre sudah memasuki halaman rumahku.

“Can I pray at your place?” * Permintaan ini datang dari supir taksi yang aku tumpangi. Permintaan itu terucap ketika ia menolongku mengeluarkan barang-barang belanjaan dari bagasi mobilnya. Bapak supir taksi yang kemudian aku ketahui berasal dari Pakistan itu rupanya mengenaliku sebagai seorang Muslimah dari kerudung yang aku pakai.

 Ada semacam keraguan yang aku tangkap di wajahnya ketika dia mengucapkan permintaan itu. Aku mengira Bapak itu ragu apakah aku akan mengizinkannya untuk shalat di tempatku. Kami tidak mengenal satu sama lain sebelumnya. Menerima orang asing untuk masuk ke rumah adalah sesuatu yang berisiko. Namun, aku meyakini bahwa Bapak ini bukan orang asing karena kami adalah saudara dalam Islam. Alasan itu cukup kuat mendasariku untuk mengizinkannya untuk shalat di rumahku.
 
 
Setelah menunaikan shalat Maghrib, Bapak itu pun bergegas pergi. Aku tidak sempat mengetahui namanya, tapi kehadirannya sore itu dirumahku memberiku hikmah untuk menguatkanku untuk tetap mendirikan shalat lima waktu dimanapun aku berada. Di sela –sela kegiatan mencari nafkah, bapak itu tetap istiqamah untuk mendirikan shalat.

Menetap di negara yang mayoritas penduduknya adalah non-Muslim, seperti Australia, memerlukan  perjuangan tersendiri untuk tetap menjalankan ibadah shalat. Jumlah masjid dan mushalla terbatas dan hanya berada di daerah-daerah tertentu membuat setiap Muslim dan Muslimah harus memutar otak untuk tetap shalat ketika beraktivitas di luar rumah. Ada kalanya karena situasi yang mendesak, menggelar sajadah di tempat terbuka, seperti taman di tengah kota, menjadi pilihan untuk melaksanakan shalat.

Suara azan yang nyaris tidak pernah terdengar berkumandang harus tidak menjadi halangan untuk tetap mengingat waktu shalat. Dengan kata lain, Muslim dan Muslimah yang tinggal di Australia dan di negara lain, harus benar-benar menguatkan diri untuk tetap istiqamah dalam menegakan shalat.  Disinilah keimanan mereka diuji. Apakah menyerah kepada keadaan dengan berkompromi dengan tidak shalat ataukah tetap berjuang untuk tetap shalat.

Banyak yang menyerah dan ada juga yang tetap istiqamah. Bapak itu adalah salah satu contoh orang-orang yang istiqamah dalam ibadah mereka. Ia membuatku yakin bahwa dimanapun kita berada, mendirikan shalat adalah kewajiban.

Di sisi yang lain, aku bersyukur atas kemudahan yang dianugerahkan pada Muslim dan Muslimah yang tinggal di Indonesia. Masjid dan mushalla ada di mana-mana. Di sekolah, di perkantoran bahkan di pusat-pusat perbelanjaan, selalu ada ruang yang dikhususkan untuk dijadikan tempat shalat. Azan pun dengan mudah di dengar di setiap sudut kota dan desa. Dengan kata lain, tidak ada alasan untuk tidak diingatkan untuk shalat.

Kadang kala, kemudahan itu membuat kita terlena untuk dengan mudah mengenyampingkan datangnya waktu shalat. Karena merasa tidak perlu dipusingkan untuk mencari tempat shalat, menunda shalat menjadi suatu kelaziman.

Selayaknya kita bersyukur dengan kemudahan yang kita terima. Ingatlah bahwa tidak semua saudara-saudara kita dapat merasakan nikmat atas tempat shalat yang tersedia dimana-mana dan tidak semua dari mereka dapat mendengar azan yang dikumandangkan lima kali sehari. Kemudahan ini sebaiknya kita sikapi dengan menghargai waktu shalat dan istiqamah menunaikannya.

 *Bolehkan saya sembahyang di tempatmu?

Ruang Hati di Lantai 7

Tersebutlah sebuah ruangan di lantai 7 di kantor kami. Ukurannya tidak terlalu besar, mungkin sekitar 2 x 3 meter persegi. Didalamnya terdapat dua buah lemari tempat menyimpan berkas-berkas lama dan printer tidak terpakai. Di pojok sebelah kiri ruangan itu, sebuah lemari es yang hampir tidak berisi menempel di dinding.

Ruangan itu tidak seramai ruang tengah yang selalu dipenuhi celoteh staf-staf yang disibukkan dengan tugas-tugas rutin. Ruangan itu selalu kelihatan sepi karena tidak satupun dari kami yang berkantor didalamnya.

Di dalam salah satu lemari, beberapa mukenah dan sajadah yang telah pudar warnanya terlipat rapi. Ruang itu adalah mushalla kecil di tengah kepungan ruang-ruang besar tempat kami beraktivitas. Ruang itu adalah Ruang Hati bagi kami.

Di tengah kesibukan harian yang gegap gempita, Ruang Hati itu adalah tempat untuk ‘kembali‘; pulang ke kodrat seorang hamba kepada Sang Pencipta untuk bersujud dan mengakui kelemahannya. Bak seorang kekasih yang rindu belahan hatinya, kami tandangi Ruang Hati itu di waktu Zuhur, Ashar, Maghrib dan kadang Isya.

Foto ini diambil dari http://geopractice.wordpress.com/

Di waktu-waktu itu, kami melepaskan dunia dan tunduk sejenak. Kami mencoba menyegarkan hati kami di tengah himpitan dunia dan segala isinya. Deadline laporan, nota dinas dan segala hal yang berbau urgent seakan hilang ketika kami memandangi sajadah dan mengangkat takbir ‘Allahuakbar‘.


Kebersamaan terasa semakin indah ketika kami merapatkan shaf dan sholat berjamaah. Pada saat seperti inilah, tidak satupun dari kami yang merasa dikecualikan karena perbedaan pangkat dan golongan. Kami merasa sama dimata-Nya.


Ruang di lantai 7 di kantor kami adalah salah satu dari ribuan ruangan khusus untuk shalat di gedung-gedung perkantoran di Jakarta. Disadari atau tidak disadari, ada ribuan ruang serupa dan ribuan pekerja silih berganti memasukinya dan menunaikan shalat di sela-sela kesibukannya. Dimanapun ruangan itu berada, megah ataupun sederhana ruangan tersebut, keluasan hati yang bertandang menjadikan ruang-ruang tersebut menjadi saksi ketaatan hamba-hamba-Nya.

Thursday, October 11, 2012

Coretan Sydney 1: Do you want to travel the world with me ?

Setelah membuka folder kumpulan tulisan sewaktu ditakdirkan untuk berada di Sydney, ehh ketemu sama puisi yang dibuat pada tanggal 7 Agustus 2009, dan diselesaikan pukul 20.00 malam. 


Do you want to travel the world with me?

I have found you in your weakest moment
Smiling but hurting inside
Uttering emptiness but screaming so deep

If I could be your hero for just one day
I would take you to travel the world with me
Showing you what you have never seen
You and I could be two wandering clouds or two chirping birds
or we could be anything you dream of
I only have one humble request, come with me, there are only two of us

If I could offer you a true life
I would take you to travel the world with me
Seeing all the mountains and valleys
Feeling the sun in different cities
Seeing the moon and embracing love again under the stars

If I could show you my deepest passion
I would warm you with stories of joy from many places
I would tell you until you feel peace in my voice

So, would you travel the world with me?


Tuesday, October 9, 2012

Rayhana


“Yo tengo una cosa para ti” (Aku punya sesuatu untuk-mu) ucap Rayhana padaku. Wajah cantiknya tersenyum manis ketika menyerahkan sebuah tas karton berisi sebuah mug berwarna kuning cerah.

Gracias (terima kasih) jawabku. Ucapan terima kasihku disambutnya dengan senyum hangat yang sama ketika aku berjumpa dengannya untuk pertama kalinya setahun yang lalu di masjid Magdalena, Lima, Peru.

Senyum hangat dan keramahannya yang membuatku nyaman untuk menjalin pertemanan dengannya. Semakin lama mengenalnya, semakin aku mengagumi sosoknya yang memberikan inspirasi semangat dan kegigihan seorang muslimah Peru.

Rayhana telah memeluk Islam sejak 3 tahun yang lalu. Dengan waktu yang relatif  singkat itu, Rayhana tidak sungkan untuk terus mengenali Islam. Kerudung yang ia pakai dengan istiqamah adalah salah satu bukti kegigihannya untuk menjadi muslimah di negara di mana Islam adalah agama minoritas.

Ia juga tidak sungkan untuk  belajar membaca Al Quran. Semangatnya untuk mengenali Islam begitu besar sehingga ia meluangkan waktu untuk belajar mengaji setiap hari Minggu. Dengan penuh kerelaan, ia menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari rumahnya yang berlokasi di Callao, sebuah wilayah di pinggiran kota Lima, untuk belajar membaca Al Quran.

Baginya, Islam menjawab semua pertanyaan yang ia punya sejak masih guru di sekolahnya mengajarkan mengenai ketuhanan Nabi Isa a.s. Sebagai Rayhana kecil, penjelasan guru tersebut tidak meyakinkannya dan membuatnya terus bertanya-tanya. 

Menginjak dewasa, Rayhana tergerak untuk mengenal Islam setelah menyaksikan seorang muslim yang sedang shalat. Semenjak itu, ia mencari informasi tentang Islam dengan bertanya dan membaca. Sampai akhirnya, pada suatu sore ia mendatangi masjid dan mengucap kalimat syahadat.

Tidaklah mudah bagi Rayhana untuk menjelaskan keislamannya kepada keluarganya Ibunya pernah memaksanya untuk melepas kerudung yang ia pakai, kakak iparnya pernah tersinggung karena Rayhana tidak mau memakan makanan yang disajikan karena dimasak dengan daging haram dan ayahnya selalu merujuk Islam sebagai agama para pembunuh.

“Semuanya memang tidak mudah, tapi Alhamdulillah aku tenang”, tuturnya ketika ia menceritakan penolakan keluarganya. Baginya, Islam telah menolongnya dalam menghadapi masa-masa tersulit dalam hidupnya dan mengenalkan manisnya iman.

Rayhana juga merasakan bahwa Islam telah mengajarkan nikmatnya persaudaraan dalam Islam. Suatu saat ia pernah menangis haru ketika bertemu tanpa sengaja dengan seorang muslim. Di saat yang lain, ia merasakan keteduhan yang didapatkan di dari pertemanan sesama muslimah di Lima.

Semoga Allah terus menjagamu Rayhana, que Ala te bendiga !

Juliana


Wanita itu menatapku dengan ramah. Di bibirnya terukir senyum manis dan terucap sapaan salam ,” Assalamualaikum”. Sejurus aku melihatnya, aku langsung mengetahui kalau kami adalah bersaudara. Di antara tamu-tamu, yang hadir di gedung Kongres Lima, kami terlihat berbeda, karena kami memakai kerudung, sebuah tanda deklarasi bahwa kami adalah Muslimah.

Malam itu kami tidak sempat berbincang-bincang. Namun Allah menakdirkan kami bertemu lagi pada Shalat Ied Adha di Islamic Center, Lima. Rupanya, ia bekerja di satu-satunya  tempat komunitas Islam berkumpul di Lima. Dari situlah aku mengenalnya dengan nama Juliana, muslimah pertama yang aku temui di Peru.

Kami pun bertukar nomor telpon dan alamat. Please call me, pintaku padanya. I don’t have any friends here, tambahku. Bulan-bulan pertama di Lima, Peru memang membuat kehidupan sosialku terbatas sehingga kesempatan bertemu dengan Juliana membuatku ingin lebih mengenalnya. Ia tersenyum ramah ketika mendengar pintaku dan dua minggu kemudian, ia menelponku dan mengundangku untuk minum kopi bersama.

Kami pun akhirnya bertemu. Subhanallah, kami seperti sahabat lama yang bertemu kembali. Pembicaraan kami begitu mengalir dengan lancarnya, meskipun kami baru mengenal. Darinya aku mengetahui bahwa ia adalah orang asli Peru. Sebelumnya aku mengira Juliana adalah keturunan Arab.

Dan rupanya, Juliana bukan seorang Muslimah dari lahir. Beberapa tahun yang lalu, ia mengucap syahadat. Sampai saat ini, ibu kandungnya belum mengetahui kalau Juliana sudah menjadi seorang Muslimah.  Untuk menjaga perasaan ibunya, Juliana memilih untuk menyembunyikan identitas barunya. Ayah kandungnya meninggalkannya ketika Juliana masih kecil. Sejak itu, ia tidak pernah melihatnya lagi.

Kami berbincang dengan asyiknya dan membuatku berpikir betapa persaudaraan atas nama Islam menyatukan kami. Berbagai identitas manusia, seperti suku, ras, pekerjaan terkadang menjadi label yang bisa membuat kita menjauh satu dengan lainnya. Tetapi tidak dalam persaudaraan atas nama Islam.

Juliana sudah membuktikannya. Adalah mudah baginya untuk melupakan pertemuan kami dan menganggapnya seperti angin lalu. Tetapi Juliana memilih untuk menyambutku, saudaranya dari negeri yang berbeda benua. Allah Maha Baik, persaudaraan atas namaNya adalah nikmat yang selamanya akan aku syukuri, Alhamdulillah. 

Saturday, October 6, 2012

“Jalan Amanah” dari Indonesia untuk Peru


Me gusta este muñeca y la alfrombita,  Tia Ika” (Aku suka boneka dan sajadah ini, Tante Ika), kata Samira sambil tersenyum. Tangan mungilnya memegang erat boneka ala “barbie” berkostum muslimah buatan Indonesia dan sajadah kecil kuning dengan gambar masjid dan seekor serangga daun, berwarna merah dengan totol-totol hitam.

Sejenak kemudian, perhatiannya beralih kepada sejumlah buku cerita berbahasa Indonesia yang aku bawa. Tangannya membuka dengan cermat sebuah buku cerita dan membukanya pelan-pelan setiap halaman, mencoba untuk memahami isi ceritanya.

Samira mencoba membaca buku cerita berbahasa Indonesia

“No entiendo nada Tia” (aku tidak mengerti apa-apa Tante) katanya sambil memandangku dengan tatapan penuh kebingungan. Aku memahami kebingungannya, karena buku cerita itu berbahasa Indonesia, bukan berbahasa Spanyol, “bahasa ibu” Samira.

“Yo sé, voy a traducirlo para ti (Aku tahu, nanti aku akan menerjemahkannya untukmu), janjiku padanya.

Percakapan singkat aku dengan Samira di masjid Magdalena sore itu membuatku merenung dan berpikir banyak mengenai amanah besar yang diemban oleh orang tua muslim di Peru.  Amanah itu adalah bagaimana mereka bisa mendidik anaknya dengan nilai-nilai Islam sejak dini di tengah segala keterbatasan.

Bukan tanpa alasan boneka, sajadah dan buku-buku itu akhirnya sampai ke Peru. Lewat bantuan dua orang teman Indonesia yang berkunjung ke Peru dalam rangka tugas, barang-barang itu menjadi “jalan” untuk mewujudkan amanah tersebut.

Boneka, sajadah dan buku-buku itu akan kami gunakan sebagai materi kelas Islam untuk anak-anak Peru yang kami telah mulai sejak bulan Ramadan yang lalu. Berawal dari kekuatiran bahwa anak-anak muslim Peru, khususnya yang berdomisili di Lima, akan jauh dari nilai-nilai Islam, maka kami beranikan diri untuk memulai kelas Islam secara swadaya.

Hari ketika kami melaksanakan pertemuan pertama untuk membicarakan pelaksanaan kelas tersebut adalah hari di mana aku menyadari betapa besar semangat saudari muslimah Peru-ku untuk tetap mengedepankan identitas Islam yang diyakininya.

Aku mengingat betapa bersemangatnya Sussy, Rayhana, Marwa dan Safiyah ketika berdiskusi tentang materi apa saja yang akan dibawakan. Aku mengingat kerelaan Marwa dengan sukarela untuk membuat hiasan dinding bertuliskan bismillah, alhamdulillah, dan kalimat zikir lainnya untuk diajarkan kepada anak-anak. Aku juga mengingat kerelaan Safiyah untuk membelikan hidung-hidungan badut dan kue untuk meramaikan suasana kelas.

Dan semangat itu masih terlihat di hari-hari ketika kelas kami berlangsung. Hari-hari tersebut menyadarkanku berulang kali, betapa besar semangat saudari muslimah Peru-ku untuk tetap mengedepankan identitas Islam yang diyakininya dan betapa menyentuhnya kepedulian yang mereka tunjukkan untuk menjalankan amanah mereka sebagai orang tua.

Namun, semangat dan kepedulian itu harus dibenturkan dengan berbagai keterbatasan, salah satunya adalah keterbatasan materi ajaran dan alat peraga. Kami tidak memiliki referensi buku ajar yang banyak karena literatur bahan ajar berbahasa Spanyol susah didapatkan. Poster-poster edukatif tentang cara shalat atau cara berwudhu untuk anak-anak yang dengan mudah ditemukan di Indonesia, adalah suatu kemewahan yang tidak terjangkau di sini.

Dari sinilah ide untuk membawa contoh boneka, sajadah dan buku-buku itu bermula. Indonesia menjadi sumber referensi karena mereka percaya bahwa di Indonesia, pendidikan Islam untuk anak-anak pasti lebih maju. Sebagai muslimah Indonesia, aku memang sependapat dengan mereka. Adalah sangat mudah di Indonesia untuk menemukan mainan dan alat peraga edukatif serta buku-buku cerita Islami buat anak-anak.

Alhamdulillah, kreativitas yang dimiliki oleh muslim Indonesia dikagumi oleh saudari muslimah Peru. Aku teringat kata-kata penuh kekaguman yang mereka ucapkan ketika aku menunjukkan foto boneka muslimah yang dibuat di Indonesia dan permintaan mereka supaya aku bisa membawakannya sebagai contoh. “Traenos Ika, podamos hacer lo mismo acá” (bawakan untuk kami, kita bisa buat hal yang sama di sini), pinta Sussy padaku.

Mungkin jika dinilai dengan uang, nilai boneka, sajadah dan buku-buku itu relatif tidak seberapa. Tetapi, barang-barang itu bernilai sangat berharga sebagai “jalan” untuk mengalahkan keterbatasan tersebut dan sekaligus menjadi “jalan” mewujudkan amanah para orang tua muslim Peru untuk mendidik buah hati mereka. 

Samira dan ibunya, Rayhana, bersama sajadah dan boneka yang khusus didatangkan dari Indonesia
Aku menantikan suasana meriahnya kelas kami nantinya dengan boneka, sajadah dan buku-buku itu. Aku menantikan suasana ketika murid-murid kami bersemangat untuk belajar shalat dengan membawa sajadah warna-warni dan betapa cerahnya wajah mereka ketika akhirnya dapat membaca dan memahami buku-buku cerita Islami dalam bahasa Spanyol. 

Dan aku akan sangat menantikan senyum Samira dengan wajah puas ketika ia mengatakan kepadaku, “Ahora, yo entiendo la historia de tu libro, Tia” (sekarang, aku mengerti isi cerita bukumu, Tante).

Tuesday, October 2, 2012

Dari Brebes ke Peru: Cerita Bawang Merah


Seringkali kita mendengar kalimat bahwa Allah SWT tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia dan bahwa Allah SWT menciptakan sesuatu dengan ukuran yang paling sempurna. Kali ini pembuktian kalimat tersebut dapat kita renungi dari ciptaanNya yang bernama “bawang merah”.

Di suatu pagi, sambil menunggu kuah soto yang sedang dimasak, aku dan Ibu Dedeh bercakap-cakap tentang bawang merah di Peru. Ibu Dedeh rupanya dulu adalah seorang pengusaha bawang merah goreng sukses di Jakarta. Lewat usahanya yang sempat berjaya di kala tidak banyak pesaing, Ibu Dedeh berhasil memperkerjakan sejumlah karyawan dan menyambung hidup dengan menjadi supplier bawang merah goreng untuk rumah makan di Jakarta.

Lewat penuturan Ibu Dedeh tentang bawang merah goreng, terungkaplah hikmah kenapa hanya di Indonesia saja, bawang merah goreng bisa menjadi sumber rizki, sementara di negara berbeda seperti Peru, bawang merah goreng tidak bernilai ekonomis.  

Berbeda dengan di Indonesia, bawang merah di Peru lebih besar, sebesar bawang bombay, lembaran bawangnya lebih tebal lebih berair. Karakteristik bawang merah itu tentunya agak menyusahkan orang Indonesia di negeri Machu Picchu yang berkeinginan untuk membuat bawang merah goreng karena harus bekerja ekstra untuk mengiris bawang merah tipis-tipis dan menggorengnya sehingga menjadi renyah. Menggorengnya pun ada seni tersendiri. Jika tidak tahu triknya, bawang merah goreng yang dihasilkan bisa saja menjadi basah dan tidak garing.

Lewat penuturan Ibu Dedeh pula terungkap pula bahwa bawang merah Brebes (salah satu kabupaten di Jawa Tengah) adalah bawang merah yang paling cocok untuk dijadikan bawang goreng merah karena menghasilkan bawang merah goreng yang renyah dan lebih harum.

Bawang Brebes
Konon, menurut para petani bawang Brebes, hembusan ´´angin kumbang´´ yang datang dari Gunung Kumbang menjadi faktor yang mempengaruhi kualitas bawang merah Brebes. Katanya ´´angin kumbang´´-lah yang menjadikan bawang merah Brebes beraroma khas, yang tidak dimiliki oleh bawang merah lain. Karena kelebihan bawang merah Brebes mungil itu, nama bawang merah Brebes tidak hanya dikenal se-antero Jawa Tengah tetapi sudah me-nasional.

Popularitas bawang merah Brebes menjadi jalan rizki bagi para petani. Kurun waktu antara tahun 1991-2001 merupakan masa keemasan para petani bawang merah Brebes yang ditandai dengan banyaknya petani yang naik haji karena hasil penjualan bawang merah atau menurut istilah budayawan Brebes, Atmo Tan Sidik, ´´haji bawang´´.

Lain di Indonesia, lain pula di Peru. Kota Arequipa yang merupakan kota terbesar kedua di Peru bisa dikatakan sebagai dengan “Brebes” Peru. Kota ini merupakan salah satu kota penghasil bawang merah terbesar di Peru. Bawang merah yang dihasilkan besar-besar dan mayoritas hasil panen bawang merah dari kota ini diekspor ke luar negeri, terutama ke Amerika Serikat. Data menyebutkan bahwa Peru merupakan negara pemasok bawang merah terbesar ketiga di Amerika Serikat. Hasil ekspor bawang merah Peru memang cukup fantastis, tidak kurang dari 16 juta dollar dihasilkan dari ekspor bawang merah pada tahun 2010.

Cebolla roja Peru

Dengan melihat jenis bawang merah yang ada di Indonesia, aku berpikir memang ada alasannya kenapa mayoritas bawang merah (cebolla roja dibaca ceboya roha) di Peru diciptakan dengan ukuran jumbo Di sini, makanan khas Peru kaya akan irisan bawang memanjang. Dengan kata lain, bawang merah di sini merupakan pelengkap utama atau daya tarik makanan khas Peru.

Contohnya saja di makanan lomo saltado, makanan khas Peru yang dari tampilannya mirip tong seng daging. Tampilan khas lomo saltado adalah campuran irisan daging sapi memanjang, dicampur dengan gorengan kentang yang juga memanjang, berkuah kecap sillao dan tentunya tidak lupa pelengkap utama, irisan bawang merah jumbo khas Peru yang juga memanjang.

Lomo Saltado

Atau ambil contoh lain, ceviche, makanan kebanggaan Peru. Potongan ikan mentah yang dimatangkan dengan air jeruk nipis tidak akan disebut cebiche jika tidak dicampur dengan potongan bawang merah “yang lagi-lagi memanjang”, namun diiris tipis.

Ceviche
Aku iseng membayangkan kalau saja misalnya bawang merah Brebes yang tumbuh di Peru, maka lomo saltado dan ceviche tidak akan disajikan seperti sekarang. Potongan daging sapi di lomo saltado dan kentang gorengnya walhasil akan menjadi lebih kecil demikian juga dengan potongan ikan mentah di ceviche karena harus menandingi irisan bawang merah Brebes yang walaupun dipotong memanjang, tetap saja akan terlihat mungil.

Jadi, sudahlah tepat jika bawang merah mungil dari Brebes tumbuh di Indonesia dan tidak dibudidayakan di Peru. Di Indonesia, bawang merah mungil itu menjadi jalan rizki Ibu Dedeh dan “Ibu Dedeh” lainnya untuk mengembangkan usaha bawang merah goreng. Bawang merah Brebes juga menjadi jalan rizki yang menghantarkan sejumlah para petani untuk berhaji.

Dan sudahlah tepat pula, bawang merah di Peru diciptakan dengan ukuran jumbo untuk melengkapi kekhasan makanan Peru, yang tanpa irisan bawang memanjang akan hilang kekhasannya. Ukuran jumbo itu pula yang membuat bawang merah mereka layak ekspor ke Amerika Serikat sehingga mencukupi kebutuhan warga Paman Sam akan bawang merah.

Memang, penciptaan bawang merah tidaklah sia-sia. Dari Brebes ke Peru, merahnya bawang membawa berkah.

´´Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main (sia-sia) ´´ (QS Ad Dukhaan [44]: 38).


Thursday, September 20, 2012

Mari Kita Susun Batu Bersama ! * (Catatan untuk Saudari Muslimah Peru)


Tidak terasa sudah beberapa bulan sejak Sussy, Rayhana dan aku terpilih sebagai dewan Komisi Wanita Muslimah di Peru (Comision de Mujeres Musulmanas en Peru). Jujur, kami belum berbuat banyak tetapi kami mencoba untuk tetap menjalankan tugas yang diamanahkan kepada kami untuk kepentingan saudari-saudari muslimah Peru.

Allah SWT mengetahui setiap tantangan yang harus kami hadapi dan setiap hal-hal yang sebenarnya sepele tapi kadang berubah menjadi hal besar. Tetapi, alhamdulillah, kami telah lalui itu semua dan kami tetap siap untuk melanjutkan tugas kami di komisi.

Selama beberapa bulan terlibat dalam sebagai anggota dewan, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan, terutama kepada sesama muslimah Peru.

Aku berasal dari sebuah negara di mana muslim merupakan mayoritas. Jadi, aku dengan mudah dapat mengatakan bahwa sangat mudah bagi para muslim/ah Indonesia untuk mempraktikkan Islam. Masjid berada hampir di setiap sudut kota. Wanita-wanita berkerudung menikmati kebebasannya untuk bekerja dan belajar tanpa menarik banyak perhatian karena cara berpakaiannya. Anak-anak kami dapat belajar untuk membaca Al -Quran di banyak tempat. Kesimpulannya, muslim/ah Indonesia lebih beruntung dibandingkan kalian.

Sussy bersama dengan anak-anak di kelas pertama kami

Di sini, di Peru, kita harus berjuang. Muslim/ah di Peru harus berjuang untuk dapat menyeimbangkan identitas antara sebagai seorang warga negara Peru dan sebagai seorang muslim/ah. Hal tersebut merupakan sebuah tantangan dan kadang-kadang (mungkin), kalian, saudaraku, merasa kehilangan arah.

Oleh karena itu, adalah suatu keharusan untuk memiliki sebuah komunitas Islam yang lebih kuat yang dapat menjadi rumah kita di mana setiap orang dapat disambut.

Komunitas seperti ini BUKAN merupakan sebuah hadiah, kita harus berjuang untuk mendapatkannya. Untuk berpartisipasi dalam perjuangan ini, kita harus membuka pikiran kita dan meletakkan komunitas Islam yang kuat sebagai sebuah prioritas, sebuah tujuan. Benar bahwa kita memiliki perbedaan, tetapi perbedaan tersebut tidak merupakan alasan yang memisahkan kita.

Kalian, saudari muslimah Peru, pasti akan mengatakan “Ika, sebaiknya kamu diam saja, kamu orang asing yang akan kembali ke negaramu dan akan melupakan semuanya !”. Betul, aku akan kembali ke Indonesia, tetapi satu hal yang ingin aku tekankan di sini bahwa ketika aku kembali nanti, aku ingin melihat kalian (terutama para muslimah) berubah menjadi komunitas yang lebih kuat.  

Insya Allah, dengan pertolongan Allah dan bantuan kalian, Dewan Komisi akan dapat menyumbangkan sesuatu. Apa yang kami upayakan memang bukan merupakan sebuah karya besar seperti Machu Picchu. Tetapi, bahkan untuk membangun Machu Picchu, sekelompok orang harus memulai prosesnya dengan hal yang sederhana, atau dengan kata lain memulai dengan “langkah-langkah kecil”, contohnya adalah meletakkan batu-batu pertama.

Begitulah, kami sedang bekerja untuk meletakkan batu-batu pertama itu dan kami dengan tangan terbuka mengundang kalian, saudari muslimah Peru, untuk meletakkan batu-batu lain bersama kami.

Demi kemajuan Islam di Peru dan demi Peru yang kalian cintai !

*Terjemahan dari Vamos a poner piedras juntas !

Sunday, September 16, 2012

Enjoying Peru con estilo de Ika: Taxis and their drivers

Apart from those frightening stories about using taxi services in Lima, Peru, somehow I have found that travelling by a taxi in Lima can be interesting and yet enriching.

Taxi services in Lima are one of the interesting parts in Lima. Some people hate it because of the security problem. Crimes can happen in a taxi, especially to those foreigners who barely know the city and barely speak Spanish. For example, one of my closest friends lost her computer in a taxi. Luckily, nothing happened to her but other stories that I heard or read are even worse than people can imagine.

For some personal reasons (mostly my fear factor “big grin”), I do not drive and prefer to use public transportations that Lima can offer. Taxi is the most reasonable option for me when I have to go to some places faster and at the same time, when I am clueless of where I want to go.

(I did not own the picture, I took it from  http://perilousperu.files.wordpress.com/2009/09/perutaxi.jpg )



















Most of time, I do feel afraid of some crime possibilities that can occur. But, sometimes, I do not have any choices so I just embrace myself, think positively, be cautious at the same time and lista, I’ll be in a taxi.

I would say that being in a taxi in Lima can really be an interesting moment because of the interaction that I usually have with the driver. Most of the drivers that I met were friendly and curious at the same time.

I remember that one time I met a driver who represents a father figure.

Once I had to attend an event at night in La Molina. After bargaining the price, I finally could find a taxi driver who would take me there for a quite reasonable price. The driver was a middle aged man who has a daughter and a grandchild. I noticed that from the picture that he placed on the dashboard.

Simple pick lines to open the conversation were about the questions about my nationality. After a while, just like a father, he gave me advices about safety, that I should not travel alone at night; that I should be careful where to stop taxi; those things that a concerned father always has for his daughter.

Then, the conversation even became so personal when he talked about his own daughter who happened to give him a cute little grandchild without being legally married to the father. With a sad tone, he told me that the father did not really care about his daughter and grandchild. His daughter has to raise her alone. Financially, she cannot support her daughter alone. So, it is the grandfather who helps her and his grandchild.

Tu vas a casarse un dia, busca un hombre que sea responsible” (You are going to get married one day, find a responsible man!). His other advice gently touched my heart and created a sensation just like a real feeling when my father tells me some wisdoms based on experiences.

I could hear the change of the sad tone into a happier one when he told me about how funny her granddaughter was. He even let me saw the picture of his precious one; a very beautiful little girl. For me, he is indeed a very lucky grandfather.

Some other times, the drivers can even really be so curious and being opened with any kind of issues, including religion. Because I wear hijab, most of the drivers have asked me questions about why I am wearing that, my religion and some rumors that he heard about Islam and even a serious theme about how women are treated in Islam.

One driver asked me whether I could wear a mini skirt and when I said no, he asked me why. After explaining why, he seemed not to understand well and said if I were his daughter, he would have let me worn anything, including a mini skirt.

One driver told me that he heard about when a Moslem man is dead in a holy war, he would be rewarded by a number of virgins. Jokingly, he said that if that had been true, he would have converted into a Moslem.  

One driver whom I met told me that he was in Iraq for a couple of years and expressed that he did not like how women were treated there and asked me whether in Indonesia women were treated the same.

One driver even got so preachy and started talking about his belief against Islam.

I remember all of those experiences with a smile on my face. In my opinion, the moments that I have shared with the taxi drivers have been colorful and at the same time are enriching. I am now used to explain why I wear hijab and my views on several issues, especially about how women are treated in Islam. In a way, I could understand their prejudices that come from what they have heard or what they have watched and learn to respond in the most correct way.

If you ask me whether I always have been lucky with the taxis and the drivers, my answer is "no, not always". I had been in wrong taxis where the drivers cheated me by charging higher prices. But, no me importa, most of the drivers whom I met have been the people who I always remember joyfully. For me, they are reasons to enjoy Peru, con mi estilo :)

Sunday, September 2, 2012

Vamos a poner piedras juntas !


Ha pásado más de un mes después de que Sussy, Rayhana y yo fuimos eligidas como miembros de la Directiva. Francamente, no hemos hecho mucho, pero estamos tratando de trabajar juntas por ustedes.

Allah SWT sabe los desafíos que tenemos que enfrentar y todas las cosas pequeñas que a veces se transformaron en problemas. Pero, alhamdulillah, hemos pásado todo y estamos listas para continuar el trabajo.

Desde mi punto de vista, tengo algo para compartir con ustedes :)

Soy de un país donde los musulmanes son la mayoría. Entonces, yo puedo decirles que es facíl para las musulmanas indonesias practicar Islam. Masjid está en todo lado. Las mujeres con velos están disfrutando sus libertades  para trabajar y estudiar sin llamar la atención por sus velos. Los niños pueden aprender como leer Al Quran en muchos lugares. En suma, los indonesios tenemos más ventajas que ustedes.

Acá, en Perú, tenemos que luchar. Ustedes tienen que luchar para que puedan mantener el balance entre sus identidaded como peruanos y como musulmanes. Es un reto y, a veces (tal vez), ustedes se sienten perdidos.  

En este sentido, hay que tener una comunidad Islamica que es más fuerte, para que sea nuestra casa donde todas sean bienvenidas.

Una comunidad como está no ES un regalo, tenemos que luchar para tenerla. Para que participe en la lucha, tenemos que abrir nuestros pensamientos y poner a la comunidad como la prioridad, una meta. Sí, tenemos diferencias, pero las diferencias no son los razones que nos separan.


Ustedes, mis hermanas peruanas deben decir que “Callate Ika, tu eres una extranjera, te vas a regresar a tu país y vas a olvidar todo !. Sí, tienes razón que me voy a regresar a mi país, pero lo que quiero decir que en el día cuando yo regrese, me encantaría que ustedes (especialmente las mujeres) se transformen en una comunidad  unida.

Insya allah, con la ayuda de Allah SWT y ustedes, la Junta pueda contribuir en algo. Nuestro trabajo no sea una obra maestra como Machu Picchu. Pero, incluso para construir Machu Picchu, algunas personas tenían que empezar con algo simple, o digamos “pequeños pasos”, por ejemplo poniendo las primeras piedras.

Así es, nosotras estamos trabajando para poner las primeras piedras y los nos invitamos a que ustedes pongan más piedras juntas con nosotras.

Viva Islam en Peru, viva Peru !

Lima, 2 de setiembre 2012 (15 Syawal 1433 H).