Emailnya singkat
dan ringan. Dengan tutur bahasanya yang tidak berubah sejak kami kuliah dulu,
dia mengabarkan kalau sekarang dia telah dikarunia seorang anak laki-laki
berumur 2 tahun. Dia melampirkan empat foto anaknya dengan pose yang
berbeda-beda. Anaknya sangat mirip dengan sahabatku ini. Garis wajah dan
senyumnya sangat mengingatkanku padanya.
Dengan nada
merendah dia menceritakan bahwa kegiatannya sekarang adalah mengurus rumah
tangga sekaligus mengajar bahasa Inggris pada sebuah lembaga bahasa. Ketika aku
membaca kalimat itu, terbayanglah kesibukan-kesibukannya setiap hari. Pagi
harinya dimulai dengan menyiapkan sarapan untuk suaminya, memandikan si kecil,
menyusui si kecil dan seabrek kegiatan rutin lainnya. Sore harinya dia harus
berangkat mengajar. Sepulang dari mengajar, dia harus kembali menjalankan
tugasnya sebagai ibu, mengurus si kecil tanpa melupakan suaminya.
Satu hal yang aku
garis bawahi adalah tidak semua wanita dapat menjalani peran yang dia jalani
tiap hari. Butuh kesabaran dan ketekunan untuk bisa sepertinya. Aku sendiri
belum yakin dapat dianugerahi kesabaran dan ketekunan yang dia miliki. Setiap
hari adalah senyum yang harus dia bagi pada anak, suami dan anak-anak didiknya.
Ibu rumah tangga
memang bukan profesi yang menghasilkan uang berlimpah atau ketenaran. Di
lingkungan yang mengajarkan penilaian sesuatu atas nama materi, ibu rumah
tangga cenderung disepelekan. Sepertinya kita menganggapnya sebagai hal yang
lumrah. Adalah lumrah kalau seorang ibu harus melakukan tugas-tugasnya, mulai
dari menyiapkan pakaian suami dan anak, mencuci, mengepel, dan memasak makan
pagi, siang dan malam, ditambah cemilan sore hari. Subhanallah, butuh energi super untuk dapat menjalankan tugas-tugas
itu setiap hari.
Guru juga bukan
profesi yang menjanjikan kesenangan dunia. Tapi bukankah guru adalah profesi
mulia. Presiden Soekarno bahkan pernah menyebutkan bahwa guru adalah ‘rasul
pembangunan‘ yang menyiratkan kemuliaan profesi tersebut.
Tanpa sosok
seorang guru SD yang menginspirasinya, Andrea Hirata tidak akan mungkin menulis
Laskar Pelangi yang sedemikian
fenomenalnya. Ketika seorang diberi rizki oleh Allah untuk menjadi seorang
guru, aku percaya bahwa dia telah diberi kekuatan untuk menggugah jiwa-jiwa
yang haus akan ilmu untuk berubah menjadi seseorang. Tidak menutup kemungkinan,
bahwa salah seorang dari anak didik sahabatku akan menjadi Andrea Hirata lain
di kemudian hari.
Jadi, aku yakin sahabatku
adalah orang besar. Tidak ada yang rendah dengan menjadi seorang ibu rumah
tangga dan seorang guru. Justru tanpa sadar dia telah menunjukkanku betapa
besar peran yang ia jalani. Insya Allah, senyum yang dia persembahkan tiap hari
untuk anak, suami dan anak didiknya akan dicatat sebagai amal kebaikan.

No comments:
Post a Comment