Tuesday, October 30, 2012

Kami Sayang Pian, Ni !


Dalam percakapan mengenai kue-kue tradisional Indonesia dengan seorang teman, dengan percaya dirinya aku mempromosikan enaknya kue bingka khas Banjar. Temanku merespon dengan tidak kalah percaya dirinya bahwa kue bingka buatan neneknya lebih enak. Ketika membaca responnya, aku tersenyum kecil dan mengaku kalah karena memang tidak ada yang bisa memenangkan nuansa emosi yang tertangkap, cinta seorang cucu pada neneknya.

Dan aku pun teringat pada sosok nenek-ku yang jauh di sana. Nini (sebutan nenek di suku Banjar, Kalimantan Selatan) yang dalam bayanganku, beliau pasti sedang sibuk mengurus Rama dan Nayla, dua orang cucunya dari anaknya yang paling bungsu. Takdirnya, *Acil-ku ini menjadi single mother karena sekitar 2 tahun yang lalu, suaminya meninggal. Akhirnya, Acil-ku harus bekerja di sebuah biro perjalanan untuk mencari nafkah, menggantikan posisi suaminya.


Pekerjaannya sangat menyita waktu sehingga, Acil perlu bantuan untuk mengurus rumah dan mengasuh 2 putranya yang masih kecil-kecil. Dan Nini-pun hadir dengan suka rela untuk membagi kasih sayangnya yang tak terbatas itu untuk kedua cucunya.

Entah sudah berapa kali sosok Nini muncul dengan diam sebagai pahlawan di keluarga kami dan kami mungkin agak terlambat menyadarinya. Kadang sesuatu yang terlihat “sudah seharusnya” mengaburkan rasa penghargaan yang sepantasnya diberikan. Dan ini baru aku sadari, ketika mengingat betapa tidak terhitung pengorbanan yang Nini berikan untuk kami, anak-cucunya.

Ketika sosok Kai (kakek dalam bahasa Banjar) sebagai pencari nafkah utama harus terhalang kondisi kesehatannya yang menurun, Nini muncul dengan keterampilannya membuat pundut* dan kue-kue untuk dijual. Ketika anak-anaknya sibuk dengan urusan masing-masing dan harus meninggalkan anak-anak mereka untuk sementara, Nini muncul untuk mengasuh cucu-cucunya tanpa keluh. Aku dan adik-adikku tentunya sudah tidak terhitung berada dalam pelukan gendongannya ketika Mama tidak bisa mendekap kami. Begitu juga dengan 12 cucunya yang lain. Entah berapa kali, kami silih berganti merasakan dekapan sayang Nini.

Tidak terhitung hasil karya yang terlahir dari tangan-tangan keriputnya. Aku teringat kebun kecil yang ditanami bumbu-bumbu dapur yang dulu ia jaga atau hasil-hasil kebun yang ia bawa dari tanaman yang kelola.

Tidak terhitung pula, nilai-nilai kebersamaan yang ia ajarkan kepada kami. Putri-putrinya dan tentu cucu-cucu perempuannya secara tidak sadar telah ia “bentuk” untuk menyintai kuliner Banjar dan melestarikannya melalui “kelas memasak” di dapur rumah kami. Entah itu gangan asam, gangan karuh, pais patin, atau amparan tatak, Nini telah membagi semua resep masakan itu dengan sabarnya.    
 
Sudah semestinya kami merasa berdosa, bahwa dalam usianya yang telah menanjak di angka 70-an, kami masih belum bisa meminta beliau untuk beristirahat saja di rumah tanpa disibukkan oleh keharusan untuk membantu kami. Kami juga seharusnya merasa berdosa bahwa mungkin kami masih belum bisa menyampaikan dengan gamblang betapa kami sangat menyayanginya dan menghormatinya.

Kami, anak-cucumu, tentunya ingin menyuguhkan cinta yang sama tidak terbatasnya kepadamu dan tentunya kami ingin menjadi jalan kasih sayang Allah SWT untuk membuatmu tersenyum. Maafkan kami jika masih saja kami membebanimu dengan cobaan kesabaran yang silih berganti. Di tengah ketidakberdayaan kami, hanya satu hal yang teramat pasti bahwa “kami sayang pian Ni, teramat sayang !”.

*Acil: sebutan untuk bibi/tante dalam bahasa Banjar.
*pundut: makanan khas Banjar, kukusan beras dicampur dengan santan dan dibungkus daun pisang serta disajikan dengan sambal habang (sambal dari cabai merah kering). 

No comments: