Tersebutlah sebuah ruangan di lantai 7 di kantor kami. Ukurannya tidak
terlalu besar, mungkin sekitar 2 x 3 meter persegi. Didalamnya terdapat dua
buah lemari tempat menyimpan berkas-berkas lama dan printer tidak terpakai. Di
pojok sebelah kiri ruangan itu, sebuah lemari es yang hampir tidak berisi
menempel di dinding.
Ruangan itu tidak seramai ruang tengah yang selalu dipenuhi celoteh
staf-staf yang disibukkan dengan tugas-tugas rutin. Ruangan itu selalu
kelihatan sepi karena tidak satupun dari kami yang berkantor didalamnya.
Di dalam salah satu lemari, beberapa mukenah dan sajadah yang telah pudar
warnanya terlipat rapi. Ruang itu adalah mushalla kecil di tengah kepungan
ruang-ruang besar tempat kami beraktivitas. Ruang itu adalah Ruang Hati bagi
kami.
Di tengah kesibukan harian yang gegap gempita, Ruang Hati itu adalah tempat
untuk ‘kembali‘; pulang ke kodrat
seorang hamba kepada Sang Pencipta untuk bersujud dan mengakui kelemahannya.
Bak seorang kekasih yang rindu belahan hatinya, kami tandangi Ruang Hati itu di
waktu Zuhur, Ashar, Maghrib dan kadang Isya.
![]() |
| Foto ini diambil dari http://geopractice.wordpress.com/ |
Di waktu-waktu itu, kami melepaskan dunia dan tunduk sejenak. Kami mencoba
menyegarkan hati kami di tengah himpitan dunia dan segala isinya. Deadline
laporan, nota dinas dan segala hal yang berbau urgent seakan hilang ketika kami memandangi sajadah dan mengangkat
takbir ‘Allahuakbar‘.
Kebersamaan terasa semakin indah ketika kami merapatkan shaf dan sholat berjamaah.
Pada saat seperti inilah, tidak satupun dari kami yang merasa dikecualikan
karena perbedaan pangkat dan golongan. Kami merasa sama dimata-Nya.
Ruang di lantai 7 di kantor kami adalah salah satu dari ribuan ruangan
khusus untuk shalat di gedung-gedung perkantoran di Jakarta. Disadari atau
tidak disadari, ada ribuan ruang serupa dan ribuan pekerja silih berganti
memasukinya dan menunaikan shalat di sela-sela kesibukannya. Dimanapun ruangan
itu berada, megah ataupun sederhana ruangan tersebut, keluasan hati yang
bertandang menjadikan ruang-ruang tersebut menjadi saksi ketaatan
hamba-hamba-Nya.

No comments:
Post a Comment