“Can I pray at your place?” * Permintaan ini datang dari supir taksi yang aku tumpangi. Permintaan itu terucap ketika ia menolongku mengeluarkan barang-barang belanjaan dari bagasi mobilnya. Bapak supir taksi yang kemudian aku ketahui berasal dari Pakistan itu rupanya mengenaliku sebagai seorang Muslimah dari kerudung yang aku pakai.
Menetap di negara
yang mayoritas penduduknya adalah non-Muslim, seperti Australia, memerlukan perjuangan tersendiri untuk tetap menjalankan
ibadah shalat. Jumlah masjid dan mushalla terbatas dan hanya berada di
daerah-daerah tertentu membuat setiap Muslim dan Muslimah harus memutar otak
untuk tetap shalat ketika beraktivitas di luar rumah. Ada kalanya karena
situasi yang mendesak, menggelar sajadah di tempat terbuka, seperti taman di
tengah kota, menjadi pilihan untuk melaksanakan shalat.
Suara azan yang nyaris tidak pernah terdengar berkumandang harus tidak menjadi halangan untuk tetap mengingat waktu shalat. Dengan kata lain, Muslim dan Muslimah yang tinggal di Australia dan di negara lain, harus benar-benar menguatkan diri untuk tetap istiqamah dalam menegakan shalat. Disinilah keimanan mereka diuji. Apakah menyerah kepada keadaan dengan berkompromi dengan tidak shalat ataukah tetap berjuang untuk tetap shalat.
Banyak yang menyerah dan ada juga yang tetap istiqamah. Bapak itu adalah salah satu contoh orang-orang yang istiqamah dalam ibadah mereka. Ia membuatku yakin bahwa dimanapun kita berada, mendirikan shalat adalah kewajiban.
Di sisi yang lain, aku bersyukur atas kemudahan yang dianugerahkan pada Muslim dan Muslimah yang tinggal di Indonesia. Masjid dan mushalla ada di mana-mana. Di sekolah, di perkantoran bahkan di pusat-pusat perbelanjaan, selalu ada ruang yang dikhususkan untuk dijadikan tempat shalat. Azan pun dengan mudah di dengar di setiap sudut kota dan desa. Dengan kata lain, tidak ada alasan untuk tidak diingatkan untuk shalat.
Kadang kala,
kemudahan itu membuat kita terlena untuk dengan mudah mengenyampingkan
datangnya waktu shalat. Karena merasa tidak perlu dipusingkan untuk mencari
tempat shalat, menunda shalat menjadi suatu kelaziman.
Selayaknya kita bersyukur dengan kemudahan yang kita terima. Ingatlah bahwa tidak semua saudara-saudara kita dapat merasakan nikmat atas tempat shalat yang tersedia dimana-mana dan tidak semua dari mereka dapat mendengar azan yang dikumandangkan lima kali sehari. Kemudahan ini sebaiknya kita sikapi dengan menghargai waktu shalat dan istiqamah menunaikannya.

No comments:
Post a Comment