Hari itu matahari
yang bersinar terik. Rasa haus membuatku berulang kali meneguk air kemasan yang
aku beli sebelumnya. Tak terasa air di botol itu sudah hampir habis. Berniat
untuk membuang botol air kemasan itu, aku mencari-cari tempat sampah di
sepanjang trotoar yang aku jalani.
Sebelum niatku
terlaksana, aku melihat seorang pria setengah baya yang memanggul satu karung
penuh berisi botol plastik bekas air kemasan. Pria yang berprofesi sebagai pemulung
itu tampak lelah.
Batinku mengatakan
mungkin Bapak ini sudah berjalan tanpa henti untuk memungut botol plastik bekas
sedari pagi. Daripada aku buang botol air kemasan yang dari tadi ku pegang, aku
pikir lebih baik botol itu aku berikan ke bapak itu. Aku hampiri beliau dan
menyapanya. Lalu, aku memasukkan botol plastik itu ke dalam karung yang ia
panggul.
´´Terima kasih
De´´ ucapnya singkat sambil memandangku. Ucapan itu terasa magis dan membuatku
tersentuh karena ucapan terima kasihnya terdengar begitu tulus, tanpa rekayasa.
![]() |
| Foto diambil dari http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/arti-angka-kode-segitiga-di-botol.html |
Botol plastik, barang yang sering kita anggap
remeh, bagi sekelompok orang adalah sumber mata pencaharian. Bukan pemandangan
yang aneh lagi apabila di jalan-jalan kota Jakarta atau kota besar lainnya,
para pemulung tampak menyusurinya untuk mencari botol atau gelas plastik. Mereka
kadang mengorek-ngorek tempat pembuangan sampah untuk mencari botol dan gelas
plastik. Laksana mencari harta karun yang terpendam, dengan sabar
mereka mengais-ngais botol dan gelas plastik di tengah gunungan sampah yang
berbau.
Sebuah kesabaran
yang bermula dari pilihan mencari nafkah, menyambung kehidupan. Pilihan yang
membuat mereka jauh lebih terhormat dibandingkan manusia yang bergelimang harta
yang didapat dengan cara yang tidak halal.
Melalui tangan
mereka, botol dan gelas plastik yang sudah teronggok menjadi sampah, beredar
untuk didaur ulang. Keberadaan mereka yang sering dianggap sebelah mata sedikit
banyak membantu pengelolaan limbah plastik. Tanpa mereka yang bersedia untuk
mengumpulkan botol dan gelas plastik, kita pasti akan kebingungan menghadapi tumpukan
botol dan gelas plastik bekas.
Alangkah indahnya
apabila kita bisa membantu para pemulung itu dengan memudahkan pekerjaan
mereka. Upaya minimal yang bisa kita lakukan adalah dengan tidak mencampur
botol dan gelas plastik bekas dengan tumpukan sampah basah yang berpotensi mengeluarkan
bau menusuk.
Di beberapa
tempat umum sudah dapat kita temui tempat sampah kering dan basah. Ada baiknya, pembedaan ini kita terapkan di
rumah masing-masing. Jadi, setiap botol dan gelas plastik bekas yang kita
miliki tidak akan bercampur dengan sampah rumah tangga lainnya. Bayangkan
betapa terbantunya bapak dan ibu pemulung dengan upaya kecil kita.
Alangkah indahnya
pula apabila tuan rumah acara hajatan atau pesta yang memilih untuk menyajikan air
dalam kemasan botol atau gelas plastik untuk bersedia menyisihkan botol dan
gelas plastik, mengumpulkannya dan jika diberi kemudahan waktu, memberikannya
kepada para pemulung.
Semuanya bisa
dimulai dengan langkah sederhana dengan menumbuhkan rasa peduli. Kecil memang bentuknya,
tapi pesan rasa kepedulian ini akan sangat bermakna dalam bagi saudara-saudara
kita yang dipilihkan jalan nafkahnya melalui botol-botol plastik.

No comments:
Post a Comment