“Yo tengo una cosa para ti”
(Aku punya sesuatu untuk-mu) ucap Rayhana padaku. Wajah cantiknya tersenyum
manis ketika menyerahkan sebuah tas karton berisi sebuah mug berwarna kuning
cerah.
Gracias (terima kasih) jawabku. Ucapan terima kasihku
disambutnya dengan senyum hangat yang sama ketika aku berjumpa dengannya untuk
pertama kalinya setahun yang lalu di masjid Magdalena, Lima, Peru.
Senyum hangat dan keramahannya yang membuatku nyaman
untuk menjalin pertemanan dengannya. Semakin lama mengenalnya, semakin aku
mengagumi sosoknya yang memberikan inspirasi semangat dan kegigihan seorang
muslimah Peru.
Rayhana telah memeluk Islam
sejak 3 tahun yang lalu. Dengan waktu yang relatif singkat itu, Rayhana tidak sungkan untuk
terus mengenali Islam. Kerudung yang ia pakai dengan istiqamah adalah salah
satu bukti kegigihannya untuk menjadi muslimah di negara di mana Islam adalah
agama minoritas.
Ia juga tidak sungkan untuk belajar membaca Al Quran. Semangatnya untuk
mengenali Islam begitu besar sehingga ia meluangkan waktu untuk belajar mengaji
setiap hari Minggu. Dengan penuh kerelaan, ia menempuh perjalanan sekitar 1 jam
dari rumahnya yang berlokasi di Callao, sebuah wilayah di pinggiran kota Lima,
untuk belajar membaca Al Quran.
Baginya, Islam menjawab semua pertanyaan yang ia punya
sejak masih guru di sekolahnya mengajarkan mengenai ketuhanan Nabi Isa a.s.
Sebagai Rayhana kecil, penjelasan guru tersebut tidak meyakinkannya dan
membuatnya terus bertanya-tanya.
Menginjak dewasa, Rayhana
tergerak untuk mengenal Islam setelah menyaksikan seorang muslim yang sedang
shalat. Semenjak itu, ia
mencari informasi tentang Islam dengan bertanya dan membaca. Sampai akhirnya,
pada suatu sore ia mendatangi masjid dan mengucap kalimat syahadat.
Tidaklah mudah bagi Rayhana untuk menjelaskan
keislamannya kepada keluarganya Ibunya pernah memaksanya untuk melepas kerudung
yang ia pakai, kakak iparnya pernah tersinggung karena Rayhana tidak mau
memakan makanan yang disajikan karena dimasak dengan daging haram dan ayahnya selalu
merujuk Islam sebagai agama para pembunuh.
“Semuanya memang tidak mudah, tapi Alhamdulillah aku
tenang”, tuturnya ketika ia menceritakan penolakan keluarganya. Baginya, Islam
telah menolongnya dalam menghadapi masa-masa tersulit dalam hidupnya dan mengenalkan
manisnya iman.
Rayhana juga merasakan bahwa Islam telah mengajarkan
nikmatnya persaudaraan dalam Islam. Suatu saat ia pernah menangis haru ketika bertemu
tanpa sengaja dengan seorang muslim. Di saat yang lain, ia merasakan keteduhan
yang didapatkan di dari pertemanan sesama muslimah di Lima.
Semoga Allah terus menjagamu Rayhana, que Ala te
bendiga !
No comments:
Post a Comment