Tuesday, October 9, 2012

Rayhana


“Yo tengo una cosa para ti” (Aku punya sesuatu untuk-mu) ucap Rayhana padaku. Wajah cantiknya tersenyum manis ketika menyerahkan sebuah tas karton berisi sebuah mug berwarna kuning cerah.

Gracias (terima kasih) jawabku. Ucapan terima kasihku disambutnya dengan senyum hangat yang sama ketika aku berjumpa dengannya untuk pertama kalinya setahun yang lalu di masjid Magdalena, Lima, Peru.

Senyum hangat dan keramahannya yang membuatku nyaman untuk menjalin pertemanan dengannya. Semakin lama mengenalnya, semakin aku mengagumi sosoknya yang memberikan inspirasi semangat dan kegigihan seorang muslimah Peru.

Rayhana telah memeluk Islam sejak 3 tahun yang lalu. Dengan waktu yang relatif  singkat itu, Rayhana tidak sungkan untuk terus mengenali Islam. Kerudung yang ia pakai dengan istiqamah adalah salah satu bukti kegigihannya untuk menjadi muslimah di negara di mana Islam adalah agama minoritas.

Ia juga tidak sungkan untuk  belajar membaca Al Quran. Semangatnya untuk mengenali Islam begitu besar sehingga ia meluangkan waktu untuk belajar mengaji setiap hari Minggu. Dengan penuh kerelaan, ia menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari rumahnya yang berlokasi di Callao, sebuah wilayah di pinggiran kota Lima, untuk belajar membaca Al Quran.

Baginya, Islam menjawab semua pertanyaan yang ia punya sejak masih guru di sekolahnya mengajarkan mengenai ketuhanan Nabi Isa a.s. Sebagai Rayhana kecil, penjelasan guru tersebut tidak meyakinkannya dan membuatnya terus bertanya-tanya. 

Menginjak dewasa, Rayhana tergerak untuk mengenal Islam setelah menyaksikan seorang muslim yang sedang shalat. Semenjak itu, ia mencari informasi tentang Islam dengan bertanya dan membaca. Sampai akhirnya, pada suatu sore ia mendatangi masjid dan mengucap kalimat syahadat.

Tidaklah mudah bagi Rayhana untuk menjelaskan keislamannya kepada keluarganya Ibunya pernah memaksanya untuk melepas kerudung yang ia pakai, kakak iparnya pernah tersinggung karena Rayhana tidak mau memakan makanan yang disajikan karena dimasak dengan daging haram dan ayahnya selalu merujuk Islam sebagai agama para pembunuh.

“Semuanya memang tidak mudah, tapi Alhamdulillah aku tenang”, tuturnya ketika ia menceritakan penolakan keluarganya. Baginya, Islam telah menolongnya dalam menghadapi masa-masa tersulit dalam hidupnya dan mengenalkan manisnya iman.

Rayhana juga merasakan bahwa Islam telah mengajarkan nikmatnya persaudaraan dalam Islam. Suatu saat ia pernah menangis haru ketika bertemu tanpa sengaja dengan seorang muslim. Di saat yang lain, ia merasakan keteduhan yang didapatkan di dari pertemanan sesama muslimah di Lima.

Semoga Allah terus menjagamu Rayhana, que Ala te bendiga !

No comments: