Dalam
percakapan mengenai kue-kue tradisional Indonesia dengan seorang teman, dengan
percaya dirinya aku mempromosikan enaknya kue bingka khas Banjar. Temanku
merespon dengan tidak kalah percaya dirinya bahwa kue bingka buatan neneknya
lebih enak. Ketika membaca responnya, aku tersenyum kecil dan
mengaku kalah karena memang tidak ada yang bisa memenangkan nuansa emosi yang
tertangkap, cinta seorang cucu pada neneknya.
Dan aku pun
teringat pada sosok nenek-ku yang jauh di sana. Nini (sebutan nenek di suku
Banjar, Kalimantan Selatan) yang dalam bayanganku, beliau pasti sedang sibuk
mengurus Rama dan Nayla, dua orang cucunya dari anaknya yang paling bungsu.
Takdirnya, *Acil-ku ini menjadi single
mother karena sekitar 2 tahun yang lalu, suaminya meninggal. Akhirnya,
Acil-ku harus bekerja di sebuah biro perjalanan untuk mencari nafkah, menggantikan
posisi suaminya.
Pekerjaannya
sangat menyita waktu sehingga, Acil perlu bantuan untuk mengurus rumah dan
mengasuh 2 putranya yang masih kecil-kecil. Dan Nini-pun hadir dengan suka rela
untuk membagi kasih sayangnya yang tak terbatas itu untuk kedua cucunya.
Entah sudah
berapa kali sosok Nini muncul dengan diam sebagai pahlawan di keluarga kami dan
kami mungkin agak terlambat menyadarinya. Kadang sesuatu yang terlihat “sudah
seharusnya” mengaburkan rasa penghargaan yang sepantasnya diberikan. Dan ini
baru aku sadari, ketika mengingat betapa tidak terhitung pengorbanan yang Nini
berikan untuk kami, anak-cucunya.
Ketika sosok Kai
(kakek dalam bahasa Banjar) sebagai pencari nafkah utama harus terhalang
kondisi kesehatannya yang menurun, Nini muncul dengan keterampilannya membuat pundut* dan kue-kue untuk dijual. Ketika
anak-anaknya sibuk dengan urusan masing-masing dan harus meninggalkan anak-anak
mereka untuk sementara, Nini muncul untuk mengasuh cucu-cucunya tanpa keluh. Aku
dan adik-adikku tentunya sudah tidak terhitung berada dalam pelukan
gendongannya ketika Mama tidak bisa mendekap kami. Begitu juga dengan 12
cucunya yang lain. Entah berapa kali, kami silih berganti merasakan dekapan
sayang Nini.
Tidak
terhitung hasil karya yang terlahir dari tangan-tangan keriputnya. Aku teringat
kebun kecil yang ditanami bumbu-bumbu dapur yang dulu ia jaga atau hasil-hasil
kebun yang ia bawa dari tanaman yang kelola.
Tidak
terhitung pula, nilai-nilai kebersamaan yang ia ajarkan kepada kami.
Putri-putrinya dan tentu cucu-cucu perempuannya secara tidak sadar telah ia “bentuk”
untuk menyintai kuliner Banjar dan melestarikannya melalui “kelas memasak” di
dapur rumah kami. Entah itu gangan asam,
gangan karuh, pais patin, atau amparan
tatak, Nini telah membagi semua resep masakan itu dengan sabarnya.
Sudah
semestinya kami merasa berdosa, bahwa dalam usianya yang telah menanjak di
angka 70-an, kami masih belum bisa meminta beliau untuk beristirahat saja di
rumah tanpa disibukkan oleh keharusan untuk membantu kami. Kami juga seharusnya
merasa berdosa bahwa mungkin kami masih belum bisa menyampaikan dengan gamblang
betapa kami sangat menyayanginya dan menghormatinya.
Kami,
anak-cucumu, tentunya ingin menyuguhkan cinta yang sama tidak terbatasnya
kepadamu dan tentunya kami ingin menjadi jalan kasih sayang Allah SWT untuk
membuatmu tersenyum. Maafkan kami
jika masih saja kami membebanimu dengan cobaan kesabaran yang silih berganti. Di
tengah ketidakberdayaan kami, hanya satu hal yang teramat pasti bahwa “kami sayang
pian Ni, teramat sayang !”.
*Acil: sebutan untuk bibi/tante dalam bahasa Banjar.
*pundut: makanan khas Banjar, kukusan beras dicampur
dengan santan dan dibungkus daun pisang serta disajikan dengan sambal habang
(sambal dari cabai merah kering).










