Monday, August 12, 2013

Muslim di Peru juga Berhari Raya

Hari Raya Idul Fitri  selalu menyisipkan nuansa khas sesuai dengan sisi budaya di negara-negara di mana ia dirayakan. Jauh di salah satu negara Amerika Selatan, yakni Peru, saudara dan saudari muslim kita, juga larut dalam gegap gempita perayaan besar umat Islam sedunia ini.

Perkembangan Islam juga dapat ditemui di negara yang terkenal dengan keajaiban dunia, Machu Picchu. Meskipun tidak terdapat data resmi, diperkirakan terdapat 5000 muslim yang berdomisili di Peru. Di Lima sendiri, diperkirakan terdapat sekitar 600-700 muslim.

Khusus di Lima, ibu kota Peru, perayaan Idul Fitri dipusatkan di Asosiasi Islam Peru yang beralamat di Magdalena del Mar. Bangunan berwarna hijau dan putih yang berdiri kokoh di tepi jalan Jiron Tacna No. 556 menjadi pusat kegiatan para muslim yang berdomisili di Lima.

Selama bulan Ramadhan, Asosiasi Islam Peru menyediakan tajil gratis dan menyelenggarakan sahalat tarawih berjamaah yang dipimpin oleh seorang imam dari Mesir. Seperti tahun-tahun sebelumnya, shalat Idul Fitri pada tahun 1434 H juga dilaksanakan di asosiasi tersebut.

Shalat Id di di Pagi yang Menggigit Dinginnya 


Kamis, 8 Agustus 2013, jam 9.00 pagi, halaman samping bangunan Asosiasi Islam Peru dipenuhi oleh muslim muslimah yang bermukim di Lima yang berkumpul untuk mengikuti salat Id. Tenda besar yang dipasang khusus untuk menampung jamaah shalat Id, terlihat ramai. Pria dan wanita dengan pakaian terbagusnya berkumpul di tempat masing-masing sambil mengumandangkan takbir.

Begitulah suasana hari raya Idul Fitri 1434 H di Lima, Peru. Walaupun masyarakat muslim di Peru merupakan minoritas, alhamdulillah mereka diberikan kesempatan untuk mengekspresikan kegiatan keagamaan tanpa hambatan yang berarti.

Udara yang dingin di pagi hari itu tidak mengurungkan niat untuk menggenapkan akhir ramadhan dengan pelaksanaan Shalat Id. Tepat  pukul 09.30 pagi, shalat Id dimulai dengan dipimpin oleh Syeikh Mahmoud, seorang ulama Mesir yang diutus oleh pemerintah Mesir untuk membantu kegiatan dakwah di Asosiasi Islam Peru. Sesudah shalat, Syeikh Mahmoud menyampaikan khutbah Idul Fitri yang mengambil pesan utama hikmah perayaan Idul Fitri bagi muslim.

Barisan shaf pria dan wanita dipenuhi wajah-wajah gembira. Tua muda, pria wanita, muslim asli Peru dan muslim dari negara lain tampak berbaur dengan harmonisnya. Hari itu adalah hari yang sarat makna untuk semua.

Selepas khutbah, tanpa menunggu komando, jamaah salat Id berdiri dan saling mengucapkan “Ied Mubarak”, ucapan yang menjadi perekat pelukan hangat sesama muslim dan muslimah. Tanpa ada batasan usia, ras, bahasa, ucapan itu menjadi bahasa universal yang mendekatkan.

Compartir: Nikmat Berbagi

Selepas salat Id, tenda yang tadi menjadi tempat salat Id berubah menjadi tempat bercengkrama. Kursi dan meja disusun rapi untuk menjadi tempat beristirahat dan berbagi atau istilahnya “compartir”.

Berbeda dengan muslim di Indonesia, yang selepas shalat Id akan kebali ke rumah masing-masing untuk sungkeman atau berkumpul dengan keluarga, muslim di Peru tidak mengenal sungkeman. Mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu hari raya bersama  di lingkungan Asosiasi Islam Peru untuk berbagi (compartir). Tentunya alasan tersebut dimengerti karena hanya di Asosiasi itulah para muslim di Lima bisa merasakan nikmatnya suasana hari raya secara bersama-sama.

Apa yang dibagi tepatnya? Yang dibagi adalah makanan atau penganan kecil yang dalam bahasa Spanyolnya disebut sebagai bocaditos (baca bokaditos).

Sudah menjadi kebiasaan para ibu dan hermanas, untuk menyiapkan makanan kecil untuk dinikmati bersama-sama. Untuk tahun ini, sejumlah hermanas yang tergabung pada perkumpulan muslimah, Muslim Sisters in Peru, telah merencanakan acara compartir dengan mengumpulkan donasi sebesar 5 soles per-orang . Uang yang terkumpul  digunakan untuk menyiapkan bocaditos  dan minuman ringan.

Di tengah keriuhan persiapan untuk menyusun meja dan kursi, tampak hermanas Aisha, Sumayya dan Munira yang membawa kotak-kotak makanan. Mereka adalah hermanas yang menjadi sukarelawan untuk menyiapkan makanan khas Peru seperti, papa huancaína (kentang rebus dengan siraman kuah keju beraroma rempah).

Dengan dibantu oleh anggota Muslim Sisters in Peru lainnya, Aisha, Sumayya dan Munira, menata bocaditos yang telah disiapkan. Dengan ramahnya, para hermanas menyuguhkan penganan yang telah dibuat kepada siapa saja. Pokoknya, pada hari itu, mereka tidak akan membiarkan seorangpun berdiri sendirian tanpa memegang makanan. “Ven y come con nosotras” (ayo ke sini dan makan bersama kami) menjadi ungkapan yang menyejukkan hati bagi siapapun yang mendengarnya.

Para hermanos yang berada di sisi lain juga melakukan hal yang sama. Mereka juga saling berbagi makanan yang telah disiapkan oleh keluarga masing-masing. Yang tidak membawa makanan untuk berbagi tidak akan kecewa, karena makanan yang ada di hari itu berlimpah ruah. Asosiasi Islam Peru juga menyiapkan sejumlah makanan untuk dibagikan secara gratis.

La Piñata

Tidak lengkap hari raya jika tanpa melibatkan anak-anak. Untuk memeriahkan hari raya, para anak dilibatkan untuk bermain piñata (baca pinyata). Piñata adalah karton yang dibentuk dan dihias dengan pita, yang diisi dengan permen dan mainan. Piñata tersebut digantung untuk menunggu “dihancurkan” dengan cara dipukul. Supaya permainannya lebih seru, orang yang diberi kesempatan memukul harus ditutup matanya dan hanya mendapatkan kesempatan terbatas untuk memukul sesuai dengan iringan musik.


Tradisi ini dikenal luas di Meksiko dan di sejumlah negara Amerika Selatan. Dipercaya bahwa tradisi ini dibawa oleh bangsa Spanyol  yang mengadopsinya dari China. Dahulu, piñata dibuat dari keramik tanah liat dan digunakan pada acara keagamaan. Namun sekarang , piñata dibuat dari kertas karton supaya tidak membahayakan dan digunakan sebagai bagian perayaan di pesta-pesta ulang tahun.

Oleh karena kedekatan sejarah dengan Spanyol, tradisi piñata juga dikenal di Peru. Dengan maksud untuk memberikan kegembiraan terhadap anak-anak, sejumlah hermanas dan hermanos menyumbangkan  lima piñatas untuk dimainkan.

Satu persatu anak-anak dikumpulkan dan diajak berbaris untuk bergantian memukul piñata. Para orang tua yang antusias menyaksikan anaknya memukul piñata berteriak untuk memberikan semangat . Dan ketika piñata berhasil dihancurkan, teriakan semakin mengeras untuk menyemangati para anak yang berebut untuk mendapatkan permen dan mainan kecil.

Orang dewasa juga tidak ketinggalan untuk ikut bermain piñata. Di antara 5 piñata  yang disiapkan, 1 piñata dikhususkan untuk para orang dewasa. Suara tawa gembira para penonton yang menyaksikan aksi lucu para tios, padres dan abuelos (paman, ayah dan kakek) yang berebut permen ketika piñata berhasil dihancurkan menambah suasana gembira.

Walaupun nilai permen dan mainan tidak seberapa,  kegembiraan yang didapatkan dari permainan piñata tersebut menjadi penutup yang manis di hari raya Idul Fitri di Peru.


Selamat hari raya Idul Fitri 1434 H, Salam dari Peru !

No comments: