Hari Raya Idul Fitri
selalu menyisipkan nuansa khas sesuai dengan sisi budaya di
negara-negara di mana ia dirayakan. Jauh di salah satu negara Amerika Selatan,
yakni Peru, saudara dan saudari muslim kita, juga larut dalam gegap gempita
perayaan besar umat Islam sedunia ini.
Perkembangan Islam juga dapat ditemui di negara yang
terkenal dengan keajaiban dunia, Machu Picchu. Meskipun tidak terdapat data resmi, diperkirakan terdapat
5000 muslim yang berdomisili di Peru. Di Lima sendiri, diperkirakan terdapat
sekitar 600-700 muslim.
Khusus di Lima, ibu kota Peru, perayaan Idul Fitri
dipusatkan di Asosiasi Islam Peru yang beralamat di Magdalena del Mar. Bangunan
berwarna hijau dan putih yang berdiri kokoh di tepi jalan Jiron Tacna No. 556 menjadi
pusat kegiatan para muslim yang berdomisili di Lima.
Selama bulan Ramadhan, Asosiasi Islam Peru menyediakan
tajil gratis dan menyelenggarakan sahalat tarawih berjamaah yang dipimpin oleh
seorang imam dari Mesir. Seperti tahun-tahun sebelumnya, shalat Idul Fitri pada
tahun 1434 H juga dilaksanakan di asosiasi tersebut.
Shalat Id di di Pagi yang Menggigit
Dinginnya
Kamis, 8 Agustus 2013, jam 9.00 pagi, halaman samping
bangunan Asosiasi Islam Peru dipenuhi oleh muslim muslimah yang bermukim di
Lima yang berkumpul untuk mengikuti salat Id. Tenda besar yang dipasang khusus untuk menampung jamaah
shalat Id, terlihat ramai. Pria dan wanita dengan pakaian terbagusnya berkumpul
di tempat masing-masing sambil mengumandangkan takbir.
Begitulah
suasana hari raya Idul Fitri 1434 H di Lima, Peru. Walaupun masyarakat muslim
di Peru merupakan minoritas,
alhamdulillah mereka diberikan kesempatan untuk mengekspresikan kegiatan
keagamaan tanpa hambatan yang berarti.
Udara yang
dingin di pagi hari itu tidak mengurungkan niat untuk menggenapkan akhir
ramadhan dengan pelaksanaan Shalat Id. Tepat pukul 09.30 pagi, shalat Id dimulai dengan
dipimpin oleh Syeikh Mahmoud, seorang ulama Mesir yang diutus oleh pemerintah
Mesir untuk membantu kegiatan dakwah di Asosiasi Islam Peru. Sesudah shalat,
Syeikh Mahmoud menyampaikan khutbah Idul Fitri yang mengambil pesan utama
hikmah perayaan Idul Fitri bagi muslim.
Barisan shaf
pria dan wanita dipenuhi wajah-wajah gembira. Tua muda, pria wanita, muslim
asli Peru dan muslim dari negara lain tampak berbaur dengan harmonisnya. Hari
itu adalah hari yang sarat makna untuk semua.
Selepas
khutbah, tanpa menunggu komando, jamaah salat Id berdiri dan saling mengucapkan
“Ied Mubarak”, ucapan yang menjadi perekat pelukan hangat sesama muslim dan
muslimah. Tanpa ada batasan usia, ras, bahasa, ucapan itu menjadi
bahasa universal yang mendekatkan.
Compartir:
Nikmat Berbagi
Selepas salat Id, tenda yang tadi menjadi tempat salat
Id berubah menjadi tempat bercengkrama. Kursi dan meja disusun rapi untuk
menjadi tempat beristirahat dan berbagi atau istilahnya “compartir”.
Berbeda dengan muslim di Indonesia, yang selepas
shalat Id akan kebali ke rumah masing-masing untuk sungkeman atau berkumpul
dengan keluarga, muslim di Peru tidak mengenal sungkeman. Mereka lebih memilih
untuk menghabiskan waktu hari raya bersama
di lingkungan Asosiasi Islam Peru untuk berbagi (compartir). Tentunya alasan tersebut dimengerti karena hanya di
Asosiasi itulah para muslim di Lima bisa merasakan nikmatnya suasana hari raya
secara bersama-sama.
Apa yang dibagi tepatnya? Yang dibagi adalah makanan
atau penganan kecil yang dalam bahasa Spanyolnya disebut sebagai bocaditos (baca bokaditos).
Sudah menjadi kebiasaan para ibu dan hermanas, untuk menyiapkan makanan kecil
untuk dinikmati bersama-sama. Untuk tahun ini, sejumlah hermanas yang tergabung pada perkumpulan muslimah, Muslim Sisters in Peru, telah
merencanakan acara compartir dengan
mengumpulkan donasi sebesar 5 soles per-orang . Uang yang terkumpul digunakan untuk menyiapkan bocaditos dan minuman ringan.
Di tengah keriuhan persiapan untuk menyusun meja dan
kursi, tampak hermanas Aisha, Sumayya
dan Munira yang membawa kotak-kotak makanan. Mereka adalah hermanas yang menjadi sukarelawan untuk menyiapkan makanan khas
Peru seperti, papa huancaína (kentang
rebus dengan siraman kuah keju beraroma rempah).
Dengan dibantu oleh anggota Muslim Sisters in Peru lainnya,
Aisha, Sumayya dan Munira, menata bocaditos
yang telah disiapkan. Dengan ramahnya, para hermanas
menyuguhkan penganan yang telah dibuat kepada siapa saja. Pokoknya, pada hari
itu, mereka tidak akan membiarkan seorangpun berdiri sendirian tanpa memegang
makanan. “Ven y come con nosotras” (ayo
ke sini dan makan bersama kami) menjadi ungkapan yang menyejukkan hati bagi
siapapun yang mendengarnya.
Para hermanos
yang berada di sisi lain juga melakukan hal yang sama. Mereka juga saling
berbagi makanan yang telah disiapkan oleh keluarga masing-masing. Yang tidak
membawa makanan untuk berbagi tidak akan kecewa, karena makanan yang ada di
hari itu berlimpah ruah. Asosiasi Islam Peru juga menyiapkan sejumlah makanan untuk
dibagikan secara gratis.
La Piñata
Tidak lengkap hari raya jika tanpa melibatkan
anak-anak. Untuk memeriahkan hari raya, para anak dilibatkan untuk bermain piñata (baca pinyata). Piñata adalah karton yang dibentuk dan
dihias dengan pita, yang diisi dengan permen dan mainan. Piñata tersebut digantung untuk menunggu “dihancurkan” dengan cara
dipukul. Supaya permainannya lebih seru, orang yang diberi kesempatan memukul
harus ditutup matanya dan hanya mendapatkan kesempatan terbatas untuk memukul sesuai
dengan iringan musik.
Tradisi ini dikenal luas di Meksiko dan di sejumlah
negara Amerika Selatan. Dipercaya bahwa tradisi ini dibawa oleh bangsa Spanyol yang mengadopsinya dari China. Dahulu, piñata dibuat dari keramik tanah liat
dan digunakan pada acara keagamaan. Namun sekarang , piñata dibuat dari kertas karton supaya tidak membahayakan dan
digunakan sebagai bagian perayaan di pesta-pesta ulang tahun.
Oleh karena kedekatan sejarah dengan Spanyol, tradisi piñata juga dikenal di Peru. Dengan
maksud untuk memberikan kegembiraan terhadap anak-anak, sejumlah hermanas dan hermanos menyumbangkan lima piñatas untuk dimainkan.
Satu persatu anak-anak dikumpulkan dan diajak berbaris
untuk bergantian memukul piñata. Para
orang tua yang antusias menyaksikan anaknya memukul piñata berteriak untuk memberikan semangat . Dan ketika piñata
berhasil dihancurkan, teriakan semakin mengeras untuk menyemangati para anak
yang berebut untuk mendapatkan permen dan mainan kecil.
Orang dewasa
juga tidak ketinggalan untuk ikut bermain piñata.
Di antara 5 piñata yang disiapkan, 1 piñata dikhususkan untuk para orang dewasa. Suara tawa gembira para
penonton yang menyaksikan aksi lucu para tios,
padres dan abuelos (paman, ayah
dan kakek) yang berebut permen ketika piñata
berhasil dihancurkan menambah suasana gembira.
Walaupun nilai permen dan mainan tidak seberapa, kegembiraan yang didapatkan dari permainan piñata tersebut menjadi penutup yang
manis di hari raya Idul Fitri di Peru.
Selamat hari raya Idul Fitri 1434 H, Salam dari Peru !
