“Kada jadi, lakiannya bapadah jar sebaiknya inya kada usah ditunggu*” jawab Mama pelan.
“Mbah tu pang, kayapa Galuh wayahni Ma ?*”
“Pina murung, kada ceria lagi*”
Percakapan telpon dengan Mama pada hari itu berkisar tentang Galuh, anak gadis teman Mama yang sedang dekat dengan seorang pemuda. Begitu dekatnya hubungan mereka sehingga keluarga si gadis mengira pada tahun ini keluarga mereka akan “batajak sarubung”, istilah orang Banjar untuk menggelar pesta pernikahan. Perkiraan kami diperkuat oleh begitu dekatnya pula hubungan antara kedua keluarga. Istilahnya hampir tidak ada masalah dengan restu orang tua. Tapi apalah daya, singkat kata, si pemuda tersebut ternyata mengurungkan niatnya untuk menempuh hubungan yang lebih serius.
Kalimat terakhir dari Mama memberikan gambaran perasaan Galuh. Pasti rasanya seperti permen asam, manis dan asin, campur aduk antara kecewa, sedih dan sakit hati. Ditinggalkan oleh seorang pemuda yang diharapkan menjadi penyempurna sebagian dari iman pastilah bukan merupakan harapan setiap gadis di muka bumi ini.
Ah, namanya bukan jodoh mau dibilang apa lagi. Hati manusia bukan kekuasaan kita, melainkan kekuasaan Allah. Jadi jika Allah membolak-balik hati si pemuda itu untuk mengubah pikirannya, maka tidak ada yang bisa memutarbalikkan keadaan.
Galuh, seandainya aku bisa bicara langsung padamu, aku ingin mengatakan, jangan kau tangisi pemuda itu. Meminjam istilah dari buku psikologi populer “He’s just not that into you” (dia tidak benar-benar cinta kamu), aku ingin sampaikan kalau pemuda itu memang belum berniat serius padamu.
Pasti tidak mudah untuk melupakan harapan yang sudah dibangun dengan impian. Akan ada episode yang penuh deraian air mata dan pengandaian jika takdir berkata lain sehingga pernikahan itu benar-benar terjadi. Tetapi Galuh, lalui saja episode itu dengan mendekatkan diri dengan Allah. Hiasilah hari-hari mu dengan meminta ketenangan kepada-Nya. Takdir ini sudah pasti paling terbaik untukmu. Allah tidak akan memberikan suatu cobaan tanpa mengukur kemampuan kita untuk menjalaninya.
Karena kita tidak dibekali dengan kemampuan untuk membuat membuat setiap yang kita inginkan menjadi kenyataan maka berserahdirilah dan berprasangkabaiklah. "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (Al Baqarah, 216).
Takdir yang lebih baik pasti sedang menunggumu, Galuh. He is maybe just not into you, but Allah is. He is always into you.
----------
* “Jadi bagaimana Ma, apa akan ada perkawinan tahun ini ?”
* “Tidak jadi, si lelaki berkata kalau sebaiknya dia tidak usah ditunggu”
* “Setelah itu, bagaimana Galuh sekarang ?”
* “Sepertinya murung, tidak ceria lagi”
Percakapan dilakukan dengan bahasa Banjar (Kalimantan Selatan).
No comments:
Post a Comment