Saturday, June 2, 2012

Hay que aprovechar

The story about the love of a mother to her child is always endless. The best thing about knowing this kind of love story is that it can renew your love to your mother and to remember how lucky to have the most amazing woman in your life.



That's what I felt when I watch the video about Gladys Tejeda and her amazing mother, Mercelina Pucuhuaranga . Thanks to her 69 year old mother, Gladys has been qualified to participate in the Olympics 2012 in London. She is the first Peruvian marathon athlete to qualify the Olympics.

Watching the video and observing how Mercelina Pucuhuaranga talks about her daughter, you will get the impression how great she is. "Hay que aprovechar" (you have to take advantage of your moment), that was her wisdom message to Gladys.

To finally qualify to the Olympics, Gladys has passed many tests; the most important of all is the perseverence test. Being raised in a simple family, she does not have all the luxury to be pampered by all the things a child should need. She lost in a competition once because she didn't have shoes, sad isn't ? At that time, she really wanted to win the first prize because the prize was a big cooking stove. 

Once, she almost gave up running because his father passed away. But she finally realizes that she has to finish what she has started, that is running. Mercelina Pucuhuaranga is the one who always supports and teaches her to keep fighting in order to achieve greatness.

"Hay que avanzar lo que estamos haciendo, hay que terminar, hay que hacer" (you have to move forward, you have to finish, you have to do it), she said that to teach Gladys about endurance.

Any mother who loves her child is inspirational. With her unconditional love, she can be the strength against the odds. As Gladys put that "ella es algo, tambien muy sagrada" (she is something, she is sacred), Mercelina Pucuhuaranga is the mother.

Gladys has hers, I do have mine and I am sure you have yours too. Love for all mothers in the world !





He is Just Not Into You, but Allah is

“Jadi kayapa Ma, jadilah bakawinan tahun ini *?” tanyaku penuh semangat kepada Mama.

“Kada jadi, lakiannya bapadah jar sebaiknya inya kada usah ditunggu*” jawab Mama pelan.   

“Mbah tu pang, kayapa  Galuh wayahni Ma ?*”

“Pina murung, kada ceria lagi*”

Percakapan telpon dengan Mama pada hari itu berkisar tentang Galuh, anak gadis teman Mama yang sedang dekat dengan seorang pemuda. Begitu dekatnya hubungan mereka sehingga keluarga si gadis  mengira pada tahun ini keluarga mereka akan “batajak sarubung”, istilah orang Banjar untuk menggelar pesta pernikahan. Perkiraan kami diperkuat oleh begitu dekatnya pula hubungan antara kedua keluarga. Istilahnya hampir tidak ada masalah dengan restu orang tua. Tapi apalah daya, singkat kata, si pemuda tersebut ternyata mengurungkan niatnya untuk menempuh hubungan yang lebih serius.

Kalimat terakhir dari Mama memberikan gambaran perasaan Galuh. Pasti rasanya seperti permen asam, manis dan asin, campur aduk antara kecewa, sedih dan sakit hati. Ditinggalkan oleh seorang pemuda yang diharapkan menjadi penyempurna sebagian dari iman pastilah bukan merupakan harapan setiap gadis di muka bumi ini.

Ah, namanya bukan jodoh mau dibilang apa lagi. Hati manusia bukan kekuasaan kita, melainkan kekuasaan Allah. Jadi jika Allah membolak-balik hati si pemuda itu untuk mengubah pikirannya, maka tidak ada yang bisa memutarbalikkan keadaan.    
Galuh, seandainya aku bisa bicara langsung padamu, aku ingin mengatakan, jangan kau tangisi pemuda itu. Meminjam istilah dari buku psikologi populer “He’s just not that into you” (dia tidak benar-benar cinta kamu), aku ingin sampaikan kalau pemuda itu memang belum berniat serius padamu.

Pasti tidak mudah untuk melupakan harapan yang sudah dibangun dengan impian. Akan ada episode yang penuh deraian air mata dan pengandaian jika takdir berkata lain sehingga pernikahan itu benar-benar terjadi. Tetapi Galuh, lalui saja episode itu dengan mendekatkan diri dengan Allah. Hiasilah hari-hari mu dengan meminta ketenangan kepada-Nya. Takdir ini sudah pasti paling terbaik untukmu. Allah tidak akan memberikan suatu cobaan tanpa mengukur kemampuan kita untuk menjalaninya.  

Karena kita tidak dibekali dengan kemampuan untuk membuat membuat setiap yang kita inginkan menjadi kenyataan maka berserahdirilah dan berprasangkabaiklah. "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (Al Baqarah, 216).

Takdir yang lebih baik pasti sedang menunggumu, Galuh. He is maybe just not into you, but Allah is. He is always into you.

----------
* “Jadi bagaimana Ma, apa akan ada perkawinan tahun ini ?”
* “Tidak jadi, si lelaki berkata kalau sebaiknya dia tidak usah ditunggu”
* “Setelah itu, bagaimana Galuh sekarang ?”
* “Sepertinya murung, tidak ceria lagi”

Percakapan dilakukan dengan bahasa Banjar (Kalimantan Selatan).